Halo Sayang

Happy New Year, and happy starting new things once again. I hope this year becomes the best year of your life—and please pray for me too. Sorry this letter came late; it wasn’t easy to write. No comment.

Mesra-mesraannya Kecil-kecilan

Halo, kenalin aku Nisrina. Nama lengkapku Nisrina Siti Khairunnisa. Aku lahir di Bandung, tapi tumbuh berpindah-pindah di berbagai kota. Mungkin karena itu juga aku belajar banyak hal tentang pertemuan, perpisahan, dan perasaan tentang bagaimana hati bisa jatuh tanpa rencana, dan bagaimana aku akhirnya sampai di titik ini. 

Aku sebenarnya bukan orang yang sulit untuk dicintai. Hal-hal kecil dan sederhana pun sudah cukup untuk membuatku jatuh cinta. Tapi kali ini rasanya sedikit berbeda. Aku jadi lebih berhati-hati, karena aku belajar dari pengalaman sebelumnya. Aku takut fase-fase kegagalan itu terulang lagi, dan sejujurnya, aku tidak mau mengalaminya lagi. 

Saat pertama kali bertemu kamu, aku sama sekali tidak berniat untuk jatuh cinta. Aku benar-benar hanya mencari teman. Bahkan aku sudah punya prinsip untuk tidak terlalu jauh mengenal seseorang cukup di game saja. Tapi entah kenapa, waktu itu rasanya ada yang berbeda, ada sesuatu yang sedikit janggal. Aku bukan tipe orang yang suka ditelepon, apalagi video call. Aku risih, dan aku sempat berpikir kamu adalah tipe orang yang suka menelepon, dan itu akan membuatku tidak nyaman. Tapi anehnya, aku justru mengangkat teleponmu. Dan lebih aneh lagi, aku terus mengangkatnya di waktu-waktu berikutnya.

Pelan-pelan kamu bercerita, aku pun bercerita. Aku menganggapmu hanya sebagai teman berbagi cerita, tanpa ada niat sedikit pun untuk jatuh cinta. Tapi seiring berjalannya waktu, perasaan itu tumbuh perlahan, tanpa aku sadari. Dan kalau sekarang kamu bertanya, “kamu sayang aku nggak?” Jawabannya adalah: iya, aku sayang kamu. 

Aku orangnya mudah mood swing, gampang overthinking, dan gampang insecure. Setelah aku sadar bahwa aku benar-benar jatuh cinta sama kamu, aku mulai berpikir lebih jauh. Kalau aku sudah memutuskan untuk jatuh cinta lagi, berarti aku harus siap dengan segala risikonya. Tapi aku tidak mau hal-hal yang dulu terulang kembali. Aku capek, aku takut. Aku tidak mau menangis berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Aku tidak mau kehilangan semangat hidup sampai hanya bisa tiduran berhari-hari tanpa makan. Aku tidak mau itu semua terjadi lagi.

Di sisi lain, aku juga ingin seperti orang-orang pada umumnya. Aku ingin melihat cintaku dirayakan. Aku ingin diperlakukan dengan sepenuh hati, diusahakan, dijaga ditreat like a queen. Aku juga ingin merasakan itu. Sampai akhirnya aku kembali berpikir saat kamu bilang kalau kamu juga takut. Dan aku paham, benar-benar paham, rasanya memiliki ketakutan yang tidak mudah dihilangkan. 

Tapi dari situ juga muncul rasa lain di dalam diriku. Aku merasa seolah aku dipilih dengan keraguan. Hal yang sering membuatku insecure, selain soal fisik, adalah pertanyaan-pertanyaan di kepalaku sendiri: apakah aku bisa lebih baik dari masa lalumu, sementara kamu sebenarnya bisa mencari seseorang yang lebih dari aku? Apakah aku akan benar-benar diperjuangkan dan dicintai sepenuh itu, atau suatu hari nanti aku hanya akan menerima sisa-sisa dari trauma yang pernah kamu alami sebelumnya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku. Kadang aku yakin pada diriku sendiri, merasa bahwa aku bisa menjadi lebih baik. Tapi di waktu lain, aku merasa kecil dan tidak mampu, karena kenyataannya aku sering merasa tidak cukup.

Apa pun yang akan terjadi nanti, aku hanya ingin menikmati apa yang seharusnya aku jalani hari ini. Aku tidak ingin menuntut apa pun, dan aku tidak mau memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Aku bersyukur dan bahagia karena hari ini kamu masih ada di sini. Dan aku berharap, semoga seterusnya juga begitu. Aku sayang kamu, and I love you so… so much.

So...

How's Your Heart Today?